Margomulyo-Selasa, 8 September 2026. Pagi yang cerah di pekan kedua bulan September menjadi saksi langkah awal yang penuh makna bagi belasan pasang Calon Pengantin (Catin) di wilayah Kecamatan Margomulyo. Guna membekali para pasangan yang akan segera mengarungi bahtera rumah tangga, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Margomulyo sukses menggelar acara Bimbingan Perkawinan (BINWIN).
Kegiatan pembekalan yang sangat krusial ini dilaksanakan pada hari Selasa, 8 September 2026. Acara dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula KUA Kecamatan Margomulyo yang telah ditata sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan para peserta dengan nyaman dan representatif.
Rangkaian acara pada pagi yang penuh antusiasme tersebut dipandu dengan lugas, komunikatif, dan tertata oleh Syaifudin, S.H., salah satu staf KUA Kecamatan Margomulyo yang bertindak sebagai pembawa acara. Membuka jalannya kegiatan, suasana aula yang awalnya dipenuhi gemuruh perbincangan seketika berubah menjadi hening dan khidmat ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an dikumandangkan dengan sangat merdu oleh Kuslan, S.H. Ayat-ayat suci ini seolah menjadi pengingat spiritual bagi para Catin tentang betapa agungnya ikatan pernikahan dalam pandangan agama. Usai siraman rohani yang menyejukkan kalbu, semangat kebangsaan para peserta turut dibangkitkan melalui kebersamaan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang dipandu dengan apik oleh Listinawati, S.H. selaku dirigen.
Memasuki sesi inti dari seremoni pembukaan, Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, Huda Afrianto, S.Ag., berkesempatan memberikan sambutan sekaligus arahan langsung kepada para peserta bimbingan. Dalam amanatnya, beliau memberikan penekanan kuat bahwa Bimbingan Perkawinan bukanlah sekadar formalitas administratif untuk syarat mendapatkan buku nikah semata. Lebih dari itu, BINWIN adalah fondasi dasar dan modal awal yang sangat esensial bagi setiap Catin agar kelak tidak gagap dalam menghadapi dinamika bahtera rumah tangga yang sesungguhnya.
Dengan gaya penyampaian yang santai, membumi, dan sesekali mengundang tawa renyah dari seisi ruangan, Bapak Huda memaparkan sebuah realitas kehidupan berumah tangga. Beliau menuturkan bahwa pada dasarnya, fase-fase kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian dan masalah. Namun, kunci utamanya adalah bagaimana kita bersama pasangan mampu mencarikan solusi pemecahannya dengan kepala dingin.
"Masih jomblo dan belum nikah itu masalah, mau menikah juga ada masalah, sudah menikah tapi belum punya anak itu masalah, sudah punya anak pun tambah masalah, dan seterusnya," urai beliau dengan nada berkelakar yang langsung disambut senyum simpul para peserta. "Yang jelas dan paling penting dari rentetan masalah kehidupan tersebut adalah, solusinya harus ditemukan dan dipecahkan bersama-sama dengan pasangan. Harus solutif!" tegas Pak Huda memberikan wejangan.
Selain memberikan bekal terkait manajemen konflik dalam keluarga, Bapak Huda Afrianto juga menyisipkan pesan yang sangat relevan dengan kondisi alam saat ini. Beliau secara khusus menganjurkan para Catin untuk menanam pohon di lingkungan tempat tinggal mereka. Anjuran ini merupakan wujud nyata implementasi dari program "Ekoteologi" yang dicanangkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, di mana pelestarian alam terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan.
Untuk menguatkan pesan moral tersebut, Bapak Huda mengutip sebuah petuah bijak nan mendalam dari pahlawan nasional dan tokoh ulama besar Nusantara, KH. Abdul Wahid Hasyim:
"لقد غرس من قبلنا فأكلنا، ونغرس نحن ليأكل من بعدنا"
“Para pendahulu telah menanam, sehingga kita memakan buahnya. Sekarang kita juga menanam, agar generasi mendatang memakan hasilnya.”
Melalui kutipan puitis tersebut, Kepala KUA berharap para calon pengantin sadar bahwa pernikahan bukan sekadar membina keluarga batiniah yang bahagia, tetapi juga turut serta mewariskan ekosistem dan lingkungan yang sehat bagi anak cucu kelak.
Usai rangkaian acara pembukaan (Opening Ceremonial) yang sarat akan nasihat tersebut, kendali acara inti BINWIN sepenuhnya dilanjutkan oleh Ibu Ulyatin Munfarida, S.S., seorang Penyuluh Agama Islam yang sengaja didatangkan dari KUA Kecamatan Ngraho. Kehadiran pemateri lintas kecamatan ini memberikan energi dan warna tersendiri dalam ruang bimbingan.
Pada kesempatan berharga tersebut, Mbak Ida—begitu sapaan akrab dari Ulyatin Munfarida, S.S.—menyampaikan inti materi bimbingan perkawinan secara komprehensif, mencakup landasan teoritis sekaligus pemahaman praktik sehari-hari di dalam rumah tangga. Materi yang dibawakan menyentuh aspek-aspek fundamental yang sering kali menjadi pemicu keretakan, mulai dari psikologi keluarga, dinamika peran suami istri, hingga komunikasi asertif.
Menariknya, alih-alih menggunakan metode ceramah satu arah yang membosankan, Mbak Ida merancang kelasnya menjadi sangat partisipatif. Interaksi dengan audiens menjadi titik dominan dalam pelaksanaan BINWIN kali ini. Beliau aktif mengajak Catin berdialog, bertukar pikiran, dan melakukan simulasi ringan terkait cara merespons pasangan dalam situasi penuh tekanan. Pendekatan dialogis ini sengaja dibangun dengan harapan kuat agar apa yang disampaikan bisa langsung mengena di hati peserta dan benar-benar menjadi bekal aplikatif. Dengan ilmu yang matang, pemahaman yang terbuka, dan kesadaran lingkungan yang baru saja ditanamkan, para Catin dari Kecamatan Margomulyo kini selangkah lebih siap menyongsong gerbang pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar