Pagi itu, suasana di salah satu sudut Kantor Urusan Agama Margomulyo terasa sedikit berbeda. Dinding hijau yang biasanya menjadi latar aktivitas istirahat melepas lelah tampak lebih hidup oleh kesibukan dua pegawai perempuan yang duduk di balik meja kayu tua. Di atas meja, sejumlah kantong plastik berisi bubur kacang hijau tertata rapi berdampingan dengan makanan ringan. Tangan mereka bergerak cekatan, memastikan setiap bingkisan siap dibagikan.
Hari itu, salah seorang pegawai mengadakan syukuran sederhana. Tidak ada spanduk besar, tidak pula acara resmi dengan susunan yang panjang. Hanya bubur kacang hijau, beberapa jajanan, serta senyum rekan-rekan kerja yang ikut membantu menyiapkan hidangan. Namun, dari kesederhanaan itulah lahir makna yang tidak kecil.
Di lingkungan pegawai KUA, syukuran bubur kacang hijau telah menjadi bagian dari serba-serbi kebiasaan yang tumbuh secara alami. Ketika seorang pegawai menerima anugerah dari Allah SWT, baik berupa kelancaran urusan, kesehatan, kebahagiaan keluarga, keberhasilan anak, amanah baru, maupun terkabulnya harapan, rasa syukur sering diwujudkan melalui berbagi makanan sederhana.
Bubur kacang hijau dipilih bukan tanpa alasan. Kacang hijau berasal dari biji kecil yang tumbuh menjadi tanaman apabila dirawat dengan baik. Ia menjadi lambang harapan, ketekunan, dan ikhtiar. Dalam kehidupan manusia, sebuah kebahagiaan juga kerap berawal dari hal sederhana: doa yang tidak putus, kerja yang sungguh-sungguh, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
Proses memasak bubur kacang hijau pun menyimpan filosofi tersendiri. Kacang yang semula keras harus direndam dan direbus hingga lunak. Ia membutuhkan waktu, api yang cukup, dan kesabaran. Begitu pula hidup manusia. Tidak semua harapan dapat segera tercapai. Ada masa menunggu, berjuang, dan bertahan. Namun ketika proses itu dijalani dengan ikhtiar dan doa, Allah dapat menghadirkan kemudahan pada waktu yang paling tepat.
Rasa manis bubur melambangkan harapan agar nikmat yang diterima membawa kebahagiaan. Santan yang menyatu dengan kacang hijau menggambarkan kebersamaan dan kehangatan sosial. Sementara pembagian bubur kepada rekan kerja menegaskan bahwa kebahagiaan akan lebih bermakna apabila tidak dinikmati seorang diri.
Pada kesempatan ini, makna syukuran terlihat bukan melalui kemewahan, melainkan melalui tindakan kecil yang penuh perhatian. Dua pegawai menata kantong-kantong bubur di atas meja tua yang menyimpan jejak perjalanan kerja. Di sampingnya, terdapat makanan ringan yang siap melengkapi bingkisan. Latar dinding hijau seolah menguatkan suasana teduh, sederhana, dan akrab.
Entitas syukuran sesungguhnya bukan hanya pada bubur kacang hijau sebagai makanan. Ia hadir dalam niat seseorang untuk mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Ia juga hadir dalam kepedulian rekan-rekan yang membantu membungkus, menata, dan membagikan hidangan. Syukuran menjadi bentuk hubungan vertikal kepada Allah melalui rasa hamdalah, sekaligus hubungan horizontal kepada sesama melalui berbagi.
Dalam tradisi sederhana seperti ini, kantor tidak hanya menjadi tempat bekerja dan melayani administrasi keagamaan. Ia juga menjadi ruang persaudaraan. Semangkuk bubur kacang hijau mengajarkan bahwa rasa syukur tidak perlu menunggu perayaan besar. Cukup dengan berbagi, mendoakan, dan menjaga kebersamaan, nikmat Allah dapat terasa semakin luas dan penuh keberkahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar