Majelis Taklim Miftahul Jannah Wates menggelar kegiatan di kediaman Ibu Sigit Prawesti, RT/RW 03/02, Dukuh Wates, Desa Sumberjo, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Seluruh anggota Majelis Taklim Miftahul Jannah hadir mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Pertemuan rutin ini menjadi sarana mempererat silaturahim sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan para jamaah. Materi disampaikan Syafiatul Umma, S.Sos., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Margomulyo.
Dalam kajiannya, Ning Umm menguraikan enam ciri orang bertakwa sebagaimana terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 16 dan 17.
Ciri pertama ialah orang yang senantiasa memohon ampun sambil mengakui keimanan. Doa yang dibaca adalah, رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. Artinya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab neraka.”
Kedua, orang bertakwa adalah orang yang sabar. Sabar berarti teguh menjalankan ketaatan, menahan diri dari maksiat, serta menerima ujian tanpa berputus asa. Allah SWT berfirman, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Kesabaran membuat seseorang mampu bersikap tenang dan bijaksana saat menghadapi persoalan.
Ketiga, mereka menjaga kejujuran. Kejujuran merupakan fondasi kepercayaan dalam keluarga maupun masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ, “Hendaklah kalian berlaku jujur” (HR. Bukhari dan Muslim). Keempat, orang bertakwa bersungguh-sungguh dalam ibadah, atau qanitin, yakni tekun taat, disiplin menjalankan kewajiban, serta menjaga hati agar tetap dekat kepada Allah.
Kelima, mereka gemar bersedekah. Harta yang dikeluarkan dengan ikhlas bukan berkurang, tetapi menjadi jalan keberkahan dan penguat kepedulian. Rasulullah SAW bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ, “Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim). Sedekah dapat diwujudkan melalui materi, tenaga, ilmu, maupun senyuman yang tulus.
Keenam, orang bertakwa membiasakan istigfar pada waktu sepertiga malam terakhir. Saat suasana hening, seorang hamba dianjurkan bangun untuk bermunajat, mengevaluasi diri, dan memohon pengampunan. Allah menyebut mereka sebagai وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ, yakni orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur. Kebiasaan ini membangun kepekaan batin dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Ning Umm mengajak seluruh jamaah menjadikan enam ciri tersebut sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ketakwaan harus dimulai dari langkah kecil yang istiqamah: memperbaiki doa, berkata benar, sabar, rajin beribadah, berbagi, serta menjaga istigfar.
Melalui kegiatan rutin ini, Majelis Taklim Miftahul Jannah Wates diharapkan terus menjadi ruang belajar yang membawa manfaat. Jamaah pun diharapkan mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh, menebarkan akhlak mulia di keluarga dan lingkungan, serta bersama-sama membangun masyarakat yang religius, rukun, dan peduli.
Editor: Drun.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar